Manajemen Chick In
Saat chick in, segera buka box DOC
dan lakukan penimbangan, penghitungan serta penyeleksian kualitas DOC. Sampel
DOC yang akan ditimbang sekitar 10-20%. Bobot badan DOC yang tidak sesuai
standar breeder (di atas atau di bawah standar) dipisahkan untuk
selanjutnya dipelihara dan diberi perlakuan tersendiri.
Culling DOC yang kualitasnya buruk seperti lesu,
bulu kusam, mata keruh atau sakit. Selain berpotensi menjadi sumber penyakit,
DOC berkualitas buruk akan menurunkan persen keseragaman berat badan. Setelah
itu, segera tebar DOC di brooding.
Saat chick in, peternak juga wajib
menyediakan nutrisi dan lingkungan yang baik. Berikut ulasannya :
1) Nutrisi
Sediakan air gula 2-5%
(20-50 gram dalam 1 liter air minum) untuk mengganti energi yang hilang dari
tubuh ayam dengan segera. Ada baiknya air minum tersebut hangat (20-240C).
Hal ini untuk mencegah cold shock atau ayam trauma meminum air minum
karena suhu air terlalu dingin.
Bersamaan dengan itu,
berikan pula ransum. Selain sebagai sumber nutrisi, pemberian ransum dini akan
memacu perkembangan vili dan pemanjangan usus. Pemberian yang sedikit demi
sedikit akan lebih baik daripada sekaligus dalam satu kali pemberian. Daya
tampung tembolok DOC yang terbatas dan terjaganya kesegaran ransum adalah
alasan anjuran tersebut sehingga nafsu makan ayam tetap tinggi. Keuntungan lain
saat memberi ransum yaitu peternak bisa sekaligus mengontrol kondisi ayam.
Berikan air minum biasa setelah air gula habis atau 1-2 jam setelah chick in.
Akan lebih baik, jika air tersebut ditambah Vita Chick atau Strong n
Fit sehingga perkembangan tubuh ayam lebih optimal. Strong n Fit
dengan kandungan L-carnitin dan vitaminnya dapat mengubah lemak menjadi energi
sehingga meningkatkan berat badan dan daya tahan tubuh ayam. Sedangkan
kandungan multivitamin dan growth promoter antibiotic dalam Vita
Chick berperan pula dalam mendukung dan meningkatkan pertumbuhan anak ayam.
Jika kondisi anak ayam jelek (seperti kaki kering, bulu kusam dan sebagainya)
berikan Neo Meditril, Proxan-C, Proxan-S atau Tycotil untuk
meminimalkan resiko infeksi bakteri misalnya CRD dan colibacillosis.
Lakukan pemeriksaan
konsumsi ransum dan air minum, 2-3 jam setelah pemberian ransum pertama melalui
perabaan tembolok. Konsumsi ransum dikatakan baik bila minimal 75% sampel DOC
teraba kenyal dan lunak yang mengindikasikan bahwa ayam sudah mengkonsumsi
cukup ransum dan juga air minum. Jika perlu, peternak dapat melakukan
pemeriksaan kembali 24 jam setelah pemberian ransum dengan indikator 95-100%
tembolok ayam harus teraba kenyal dan lunak. Tembolok yang keras menunjukkan
bahwa ayam tidak cukup mengkonsumsi air minum atau bahkan mengkonsumsi sekam (litter).
Tetapi jika tembolok berisi air, diduga ayam cukup mengkonsumsi air namun tidak
dengan ransum. Jika tidak mencapai 95-100%, peternak wajib mengevaluasi
manajemen chick in misalnya kualitas fisik dan kandungan nutrisi ransum,
kenyamanan kandang, jumlah TRA, TMA dan sebagainya. Selain ketika
chick in, metode perabaan tembolok ini juga dapat digunakan saat
penggantian tempat ransum. Metodenya sama yaitu pemeriksaan dilakukan 3 jam
setelah perlakuan.
Pemeriksaan konsumsi ransum melalui perabaan tembolok
2) Modifikasi Lingkungan
Pada 1-3 jam setelah chick
in, lakukan pemeriksaan suhu litter apakah sudah nyaman atau belum.
Salah satu teknik mendeteksinya ialah melihat kondisi kaki DOC. Jika litter
terlalu panas, kaki DOC akan kemerahan dan terlihat pecah-pecah terutama di
kuku dan telapak kaki. DOC yang mengalami hal ini biasanya akan berkumpul jauh
dari brooder. Suhu kandang brooder ideal berkisar antara 31-330C
(Lohman Manual Guide, 2010). Sebaliknya jika litter terlalu
dingin, kaki DOC akan teraba dingin (dibanding suhu tubuh kita). Konsumsi
ransum dari DOC yang kedinginan atau kepanasan juga akan menurun karena DOC
cenderung diam dan meringkuk.
3) Kesehatan
Hal yang tidak kalah
penting setelah ayam chick in ialah memperhatikan faktor kesehatan
sebagai faktor pendukung. Sebaiknya lakukan pengukuran titer antibodi maternal
Seluruh kegiatan manajemen, baik pre
chick in maupun chick in berkontribusi untuk menciptakan kondisi DOC
yang sehat dan mampu menghasilkan produktivitas optimal karena manajemen awal
ini juga sangat menentukan keberhasilan periode pemeliharaan ayam berikutnya.
DOC yang terserang penyakit sejak awal, tidak akan mampu berproduksi optimal
dan hal ini tentu akan sangat merugikan peternak. Oleh karena itu, segera
terapkan manajemen pre chick in dan chick in dengan baik dan benar.
